Sabtu, 05 September 2020

Kolaborasi Terapi, Harapan Bagi Penderita Corona Agar Virus Angkat Kaki

Perhatian : artikel mengandung pesan sponsor

Di artikel sebelumnya, telah dibahas bagaimana para ahli berpendapat bahwa coronavirus telah ada sejak jaman dinosaurus, jauh lebih lama sebelum manusia ada. Coronavirus juga dapat bermutasi sehingga memiliki beberapa perubahan karakteristik. Bukannya tidak mungkin, HCoV-SARS2 penyebab COVID-19 ini merupakan produk mutasi dari dari anggota coronavirus sebelumnya. Mutasi [yang berhasil] adalah kunci dari evolusi ; suatu proses panjang yang melibatkan adaptasi dan kompetisi. Ada fakta menarik seputar wabah COVID-19 ini, yaitu untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, tidak ada wabah influenza di Afrika Selatan. Apakah ini akibat dari kompetisi antar virus? Entahlah. Influenzavirus dan coronavirus merupakan dua kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit flu pada manusia. Di masa lalu, 15% kasus flu yang terjadi merupakan ulah dari oknum anggota coronavirus yang tak bertanggung jawab. Tapi, kini salah satu oknum coronavirus telah bermutasi (seperti anggota X-MEN saja) dan menyusahkan pemerintahan di seluruh dunia. Walaupun penyakit COVID-19 ini dapat disembuhkan, tetapi terkadang proses penyembuhannya menyakitkan, dan kerusakan sel, jaringan, bahkan organ terkadang dapat terjadi apabila penanganannya terlambat. Paru-paru adalah organ yang terancam rusak secara langsung akibat virus. Tetapi, kenyataan bahwa paru-paru berperan dalam proses penyerapan oksigen, dan oksigen adalah zat yang sangat dibutuhkan, maka kerusakan paru-paru akan berdampak sistemik pada organ lainnya, misalnya otak, mata, hati, dan jantung. 

Lalu, apakah ada cara untuk membunuh ataupun mengusir coronavirus dari tubuh kita secara efektif? Saya yakin ada. Bagaimana caranya? Dengan kolaborasi terapi. Apa itu kolaborasi terapi? Terapi yang menggabungkan treatment (metode) dari beberapa bidang. 

Lalu, bagaimana caranya? Dalam buku Siasat Perang Sun Tzu, dikatakan bahwa kita harus memahami diri kita dan juga lawan yang akan kita hadapi sebelum 'maju berperang'. Berdasarkan 'nasihat' ini, maka kita harus tahu terlebih dahulu, mengenai seluk-beluk coronavirus. Berikut adalah klasifikasi grup coronavirus, berdasarkan klasifikasi dikotomi.


Di dalam Biologi, klasifikasi dikotomi memang bukanlah klasifikasi yang paling baik, tetapi sudah cukup untuk memberi deskripsi mengenai coronavirus. Perisai pelindung (envelope) dari coronavirus berjenis phospholipid bilayer. Perisai ini bersifat kedap air dan menolak air (hidrofobik). Inilah pentingnya untuk mencuci tangan dengan air dan sabun, karena air saja tidak akan cukup untuk menghanyutkan coronavirus mengingat karakteristik dari perisai pelindungnya.

Lantas, bagaimana cara membunuh coronavirus? Ya, teorinya, tinggal dihancurkan saja perisai pelindungnya. Apakah bisa? Jika di luar tubuh, hal ini bukanlah hal yang sulit. Berikut adalah penjelasan mengenai apa yang akan terjadi pada coronavirus jika terkena sabun dan air.
(1.) Coronavirus memiliki perisai pelindung yang tahan air dan juga menolak air (hidrofobik). 


(2.) Molekul sabun memiliki 'kepala' yang bersifat hidrofilik (mengikat air) dan 'ekor' yang hidrofobik (membenci air).


(3.) Di dalam air, 'ekor' dari molekul sabun akan tertarik oleh 'cangkang' coronavirus.
 

(4.) Lalu, 'ekor' dari molekul-molekul sabun akan 'mengikat' atau menempel ke permukaan cangkang coronavirus.


(5.) Dengan perlakuan mekanis (seperti menggosok-gosokkan tangan), 'kepala' dari molekul sabun akan tertarik oleh air sementara 'ekornya' tetap terikat pada [sebagian] cangkang coronavirus, menariknya keluar hingga hancur / pecah.


(6.) Tanpa 'cangkangnya', partikel coronavirus kini hanyalah sepotong materi genetik tidak bermakna yang sudah tidak aktif lagi dan tidak bisa menyebabkan infeksi.  


Menurut WHO, proses mencuci tangan yang direkomendasikan adalah sekitar 20 detik. Cukup lama memang. Selain molekul sabun, alkohol seperti etanol juga dapat merontokkan cangkang coronavirus dengan mekanisme serupa.


Seperti telah dikatakan, membunuh coronavirus itu mudah, jika virus berada di luar tubuh. Tetapi, jika di dalam tubuh menjadi lain cerita, karena kita tak dapat meminum sabun dan alkohol. Bahkan, walaupun anda bisa meminum alkohol pun, anda takkan bisa mencapai konsentrasi alkohol darah sebesar 60% (jika konsentrasi alkohol dalam darah mencapai 60%, artinya anda sudah tidak punya darah lagi). Dan alkohol itu haram. Lantas, bagaimana cara membunuhnya? Banyak meminum air hangat juga rasanya tidak efektif mencegah infeksi coronavirus karena dua alasan. Pertama, karena makanan akan melewati kerongkongan (esofagus), sedangkan coronavirus menginfeksi epitel / membran mukosal di sistem pernafasan, dari trakhea ke bawah. Esofagus dan trakhea adalah dua organ berbeda, walau orang awam menganggapnya sama : tenggorokan. Kedua, memang terkadang coronavirus bisa salah masuk ke saluran pencernaan, tetapi seperti disebutkan sebelumnya, coronavirus diselubungi perisai hidrofobik (menolak air), jadi hanya dengan meminum air tidak akan 'menghanyutkan' coronavirus, kecuali jika anda minum air sabun. Tetapi saya sangat tidak menyarankannya.

Jadi, bagaimana cara membunuhnya? Dengan menggunakan senyawa yang berkarakteristik serupa dengan dengan yang dijelaskan di atas. Tetapi, apakah senyawa tersebut ada? Tentu saja, alam sudah menyediakannya. Hanya karena kemajuan teknologi, obat tradisional telah mulai ditinggalkan. Padahal seiring kemajuan teknologi dalam menghasilkan obat-obatan muktahir (misal : antibiotik), mikroorganisme (misal : bakteri) juga akan bermutasi mengembangkan resistensi (kekebalan) terhadap obat tersebut. Tanaman obat, di satu sisi, relatif lebih efektif terhadap kuman yang yang mengembangkan resistensi, karena komposisinya terdiri dari banyak bahan aktif yang bekerja secara sinergis. Walau tidak bisa dipungkiri, bahwa tanaman obat juga memiliki beberapa kelemahan, misalnya dalam penentuan jenis dan dosis bahan aktif. Jadi, saya memulai melakukan penelusuran literatur dan percobaan dengan fasilitas seadanya, dan mencoba membuat suplemen yang diyakini bisa melawan coronavirus.

Adapun senyawa yang terdapat dalam tanaman obat sebisa mungkin diharapkan memenuhi kriteria berikut :

  • senyawa yang memiliki 'kepala' dan 'ekor'
  • senyawa yang memiliki gugus hidrofilik dan hidrofobik
  • senyawa yang [kalau bisa] lolos dari proses pencernaan, sehingga tidak mengalami perubahan struktur molekul
  • senyawa yang dapat diserap oleh usus dengan mudah
  • senyawa yang bisa masuk dan melarut dalam darah agar bisa didistribusikan
  • senyawa yang [jika mungkin] tidak dimetabolisme oleh tubuh menjadi 'limbah' yang berbahaya, misalnya kolesterol atau bahkan residu
  • jika mungkin, tidak sulit untuk dibuat

 
(beberapa bahan aktif yang terkandung dalam CNC suplemen)

Adapun bahan aktif yang terdapat dalam suplemen kami tidak dapat dirinci secara spesifik karena alasan kerahasiaan. Kami hanya bisa menginformasikan bahwa senyawa tersebut merupakan senyawa-senyawa alami yang termasuk dalam senyawa kelompok flavonoid, alkaloid, dan carboxylic acidSilahkan kunjungi bagian about us untuk informasi lebih lanjut.
Jika tertarik, produk suplemen kami dari CNC Herbal dapat dicari di Shopee Indonesia.

>>>>>

TERAPI PANAS

Pada jaman dahulu kala, ada seorang filsuf Yunani bernama Hippocrates (460 - 375 SM). Ada pernyataannya yang cukup terkenal yaitu "berilah aku kemampuan untuk mengendalikan demam, dan akan kusembuhkan berbagai macam penyakit.". Jelaslah bahwa metode ini adalah metode terapi panas, karena demam hampir selalu disertai oleh kenaikan suhu tubuh. Pada abad pertengahan, metode ini perlahan mulai dilupakan, apalagi setelah revolusi industri. Seiring perkembangan jaman, di mana mulai muncul berbagai bidang keilmuan baru seperti Mekatronika, penelitian di bidang Fisika Medis menunjukkan bahwa berbagai macam penyakit (walau, tidak semua penyakit) dapat disembuhkan dengan terapi panas. Ada berbagai macam 'terapi panas' yang dapat dilakukan, yang akan saya rinci lebih lanjut di bagian akhir. Bagaimanapun, ketika tubuh seseorang mengalami demam, memang suhu tubuh akan naik, tetapi hal ini juga akan disertai oleh reaksi inflamasi. Reaksi inflamasi yang berbahaya sangatlah tidak kita inginkan, karena bisa mengancam nyawa sang penderita atau bisa mengakibatkan beberapa komplikasi (misal, berkurangnya fungsi mata bahkan sampai menjadi idiot). Sehingga, 'terapi panas' di sini justru sebisa mungkin tidak melibatkan reaksi inflamasi. Dalam arti lain. 'terapi panas' dilakukan dengan menggunakan suatu sumber energi yang berasal dari luar. Jerman adalah negara yang menaruh minat sangat besar terhadap potensi terapi panas ini.

(mengisi waktu dengan melakukan terapi panas di bandara)

Lalu, apakah terapi panas ini akan efektif terhadap coronavirus? Saya yakin jawabannya IYA. Seperti telah disebutkan oleh Sun Tzu, mari kita lihat kembali beberapa fakta mengenai coronavirus. Coronavirus telah ada sejak jaman purbakala, memiliki lapisan pelindung yang disebut phospholipid bilayer. Coronavirus menginfeksi saluran pernafasan, lebih tepatnya epitel sel / membran mukosal. Coronavirus dapat menginfeksi beberapa spesies sekaligus, sebagai bukti dari kehebatan evolusinya. Ada ratusan (jika tidak ribuan) spesies yang dapat terinfeksi oleh coronavirus, tetapi jika dipelajari lebih lanjut maka semuanya ternyata memiliki suatu pola : hewan-hewan tersebut berasal dari golongan aves dan mammalia. Lantas, apa persamaan antara hewan golongan aves (burung) dan mammalia?

(sebagian kecil ikan yang memiliki retia mirabilia dapat mempertahankan suhu tubuhnya)

Ya, mammalia dan aves sama-sama merupakan hewan berdarah panas. Coronavirus dapat menginfeksi berbagai spesies, terlepas dari struktur reseptor tiap spesies yang berbeda-beda. Namun begitu, semua hewan [dan juga manusia] yang bisa diinfeksi oleh coronavirus (bahkan termasuk natural reservoirnya) sama-sama berdarah panas. Artinya, semua makhluk yang dapat terinfeksi memiliki range suhu tubuh tertentu. Dengan kata lain, coronavirus sangat sensitif terhadap temperatur, dan hanya dapat hidup pada range temperatur yang sempit. Inilah alasan mengapa nenek bilang sup hangat dapat menyembuhkan penyakit flu, mungkin ada benarnya juga.

Lalu, berapakah kisaran suhu tubuh mammalia dan aves? Tabel berikut menampilkan suhu tubuh dari beberapa hewan.



Dari literatur dapat dikatakan bahwa suhu tubuh mammalia berkisar antara 36 - 40 °C, dan aves di antara 38 - 42 °C. Kelelawar, makhluk yang dicurigai sebagai inang asal (natural reservoir) dari virus penyebab COVID-19, suhu tubuhnya dapat mencapai 106 °F (41 °C) ketika sedang terbang. Sehingga, penderita coronavirus (SARS, MERS, maupun COVID-19) yang parah akan mengalami demam tinggi sebagai upaya tubuh untuk 'memerangi' virus. Sayangnya, virus ini sudah 'terbiasa' dengan suhu 41 °C yang bagi manusia ini sudah termasuk demam yang parah. Jadi, pasien tersebut akan membutuhkan suhu yang lebih tinggi lagi daripada 41 °C untuk melawan si coronavirus ini. Saya berteori, bahwa setidaknya diperlukan suhu 43,5 °C untuk melemahkan coronavirus. Dan kita tidak mau panas tinggi ini datang dari reaksi inflamasi. Jadi, energi panas harus diberikan dari luar. Tetapi, bagaimana caranya? Ada beberapa alternatif yang mungkin.

(1.) Berendam Dalam Air Panas
Keuntungannya adalah, saat ini banyak rumah yang diperlengkapi dengan bath tub. Suhu air pun dapat di-setting. Kekurangannya adalah, perlu diingat bahwa air memiliki massa jenis 1000 kg/m³ dan kalor jenis 4200 J / kg °C. Artinya, air hangat akan mentransfer panas dalam jumlah besar ke tubuh, dan ini dapat mengakibatkan heat stroke, terutama pada orang berusia lanjut.

(2.) Masuk ke Sauna
Ada dua jenis sauna, basah dan kering. Sauna basah lebih disarankan daripada sauna kering, karena udara panas (dan uap air) akan langsung masuk ke saluran pernafasan, dan juga ke paru-paru, dan terjadi 'kontak' dengan virus. Udara jenuh di dalam ruang sauna juga akan memberikan energi sekitar 2300 J per gram uap air yang mungkin akan ditransfer ke virus tersebut. Ini adalah jumlah yang cukup besar, dan mungkin bisa membunuhnya atau melemahkannya. Kekurangannya adalah, udara jenuh yang terkondensasi di dalam paru-paru dapat menutup beberapa alveoli, walaupun jika hanya sebentar (di bawah 20 menit, tergantung suhu) hal ini tidak terlalu masalah. AIr yang terkondensasi di paru-paru juga menjadikan paru-paru lebih rentan terhadap infeksi jamur.

(3.) Radiasi Inframerah
Sinar inframerah dibagi menjadi 3 golongan : inframerah gelombang panjang, menengah, dan pendek. Masing-masing memiliki karakteristiknya. Terapi dengan inframerah dinilai dapat bermanfaat untuk proses penyembuhan. Keuntungannya adalah, spektrum inframerah dapat menembus jaringan kulit, lemak, dan otot. Kekurangannya adalah, lampu inframerah hanya bisa dipakai maksimum 10 menit (biasanya 7 menit) lalu harus didinginkan, walaupun ini juga tergantung tipenya. Sehingga, untuk terapi yang efektif dibutuhkan 2 - 3 buah lampu identik yang dipakai bergantian. Juga, harga lampu inframerah cukup mahal dan umurnya pendek. 

PENUTUP

Coronavirus yang sudah ada sejak lama mungkin bisa dikendalikan dengan kombinasi terapi antara tanaman tradisional dengan terapi panas. Hal ini dapat dideduksi dari sifat dan karakteristik coronavirus itu sendiri. Dan inilah, yang kami (CNC Herbal) lakukan. Produk suplemen kami dapat dicari di Shopee Indonesia
Seiring dengan semakin majunya peradaban manusia, keberadaan alam justru malah semakin dilupakan. Padahal alam adalah ciptaan Tuhan, Allah Yang Maha Bijaksana. Seharusnya ilmu pengetahuan mempelajari alam dengan arif dan seksama agar dapat hidup harmonis dengan alam. Terima kasih telah berkenan membaca artikel ini.


Referensi

https://www.nature.com/articles/d41586-020-00180-8

https://www.news24.com/news24/southafrica/investigations/for-the-first-time-in-36-years-there-will-be-no-flu-season-in-south-africa-20200807

https://www.goldennumber.net/body-temperatures/

https://www.nbcnews.com/health/health-news/new-clue-found-why-bats-spread-viruses-dont-get-sick-n81321


Selasa, 01 September 2020

Upaya Kudeta Melawan Coronavirus, Akankah Kita Merdeka?

Bangsa Indonesia baru saja merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke 75 pada 17 Agustus 2020 yang lalu. Sayangnya, kali ini bangsa Indonesia kembali harus 'dijajah'. 'Penjajah' kali ini tidak dapat dilihat, dan bahkan dapat menaklukkan hampir seluruh dunia dalam waktu tidak sampai setahun. Prestasinya jauh melebihi Genghis Khan dari Mongolia. Semua pasti sudah tahu apa yang saya maksud. Ya, makhluk tak terlihat ini bukanlah makhluk gaib, melainkan sebuah gerombolan virus yang ukurannya sekitar seribu kali lipat lebih kecil daripada rambut manusia. Mereka adalah coronavirus. Lebih tepatnya HCoV-SARS2, tetapi orang lebih banyak mengenalnya dengan nama COVID-19. Banyak pihak berlomba-lomba untuk mencari cara untuk melawannya, tetapi mungkinkah hal ini dilakukan? Virus ini telah ada sejak jaman dinosaurus. Mereka tetap ada hingga kini adalah bukti bahwa evolusi mereka telah demikian 'sempurna', atau setidaknya luar biasa. Namun begitu, yang namanya 'penjajah' harus diusir. Ada beberapa metode yang dilakukan oleh banyak pihak untuk membasmi 'penjajah cilik' ini, dan saya akan mencoba mengulasnya.


 

Metode Plasma Serum

Plasma adalah bagian dari darah yang berwujud cairan. Metode plasma serum (atau serum plasma?) merupakan suatu metode kekebalan pasif, di mana antibodi dari suatu organisme diambil untuk disuntikkan ke manusia, sehingga 'korps legiun asing' ini yang akan bekerja untuk memberantas patogen yang ada di dalam tubuh kita. Di dalam sejarah, kuda merupakan hewan yang seringkali diambil antibodinya, dengan cara sengaja diinfeksi dengan suatu kuman penyakit. Ketika kuda tersebut sembuh, maka ia akan memiliki antibodi yang dapat diambil untuk dimurnikan lalu disuntikkan ke tubuh manusia. Beberapa penyakit, seperti difteri, cacar, dan tetanus, dapat diobati dengan menggunakan serum dari plasma darah kuda.

Daripada menyuntikkan antibodi kuda ke manusia, tentunya akan lebih baik jika antibodi manusia disuntikkan ke manusia yang lain. Begitulah idenya. Tetapi, ini artinya manusia yang memiliki antibodi tersebut haruslah diinfeksi terlebih dahulu agar dapat menghasilkan antibodi. Dan kegiatan menginfeksi secara sengaja adalah perbuatan yang kejam, apalagi jika menginfeksi dengan kuman berbahaya. Tetapi, jika orang tersebut sudah terlanjur terinfeksi, ya apa boleh buat. Jika dia sembuh, maka [plasma] darahnya bisa dimanfaatkan sebagai sumber serum untuk mengobati penyakit yang sama yang diderita oleh pasien yang lain. Ya, itupun dengan syarat, sang penyintas bersedia mendonorkan darahnya dan tidak takut jarum.

 
hormat saya untuk bapak polisi dan tentara,
yang rela berbuat banyak demi bangsa dan negara ini


Kelebihan dari metode ini adalah, seperti sebuah negara lemah yang mendapatkan bantuan tentara Gurkha yang berpengalaman dalam perang, tentunya 'kemenangan' menjadi lebih mungkin diraih, walaupun terkadang bisa gagal juga. Kekurangan dari metode plasma serum ini, adalah karena 'bahan bakunya' berasal dari darah, ya artinya ini bisa disamakan dengan donor darah biasa. Normalnya, pendonor pertama dapat mendonorkan 350 mL darah dan pendonor berkala dapat mendonorkan 500 mL, walaupun terkadang bisa sampai 700 mL. Tentara atau polisi dari satuan / unit khusus dapat mendonorkan sampai 1 L darah walaupun sebaiknya tidak dilakukan, karena kehilangan 1 L darah dapat dianggap sebagai berada pada kondisi perdarahan tingkat 2 (class II hemorrhage). Hanya dalam kasus khusus (misal : perang) dan pertimbangan yang cermat hal ini dapat dilakukan.

Sama seperti tentara Gurkha yang memiliki jumlah yang terbatas, metode plasma serum ini juga sangat terbatas dan tidak bisa menolong banyak pasien. Belum lagi golongan darahnya juga harus diperiksa. Dan, seperti halnya donor darah, seorang pendonor darah baru dapat mendonorkan darahnya kembali setelah 120 hari atau 4 bulan, atau 3 bulan paling cepat. Juga, menurut Mayo Clinic, studi terhadap 35.000 pasien yang menerima plasma serum memiliki tingkat kematian 8,7% untuk seminggu pertama ; hal ini menjadi 2 kali lipatnya tingkat kematian akibat COVID-19 itu sendiri. Oleh karenanya, FDA belum bisa merekomendasikan hal ini, setidaknya menurut berita yang saya baca hingga detik ini.

Vaksinasi

Semua mungkin tahu Edward Jenner, sang penemu vaksin. Ia menggunakan virus cacar sapi dan menginfeksi anaknya sendiri, dan kemudian menemukan bahwa anaknya menjadi kebal terhadap virus cacar yang mewabah ketika itu. Pada prinsipnya, vaksin merupakan suatu metode kekebalan aktif, di mana tubuh 'diperkenalkan' kepada virus yang lebih lemah atau virus yang 'diperlemah' agar menjadi lebih siap saat menghadapi invasi virus yang sesungguhnya. Bayangkan jika tentara reguler sebuah negara semuanya berkualifikasi  komando, pasti akan menjadi...... super sekali, seperti bapak Mario Teguh. Vaksinasi dapat merangsang tubuh untuk membentuk antibodi yang [diharapkan] dapat memerangi virus yang sebenarnya. Tetapi, ada beberapa masalah di sini. 

Pertama, bayangkan satu kelompok tentara yang mendapatkan latihan berat, lalu memasuki masa tenang dan damai dan tidak melakukan latihan. Mereka akan lupa terhadap latihannya. Begitu pula dengan sistem imun kita. Dia bisa 'lupa' dengan vaksin yang pernah diberikan, sehingga antibodinya dapat hilang. Untuk kasus MERS dan SARS yang lebih mematikan, penyintas memiliki antibodi yang bertahan 2 - 6 tahun. Untuk ebola yang sangat mematikan, diketahui bahwa antibodi masih ada setelah 10 tahun. Untuk influenzavirus hanya 2 bulan. Untuk golongan coronavirus lainnya berkisar 3 - 6 bulan. Itulah alasannya, vaksin harus diulang sekali lagi (total mendapatkan dua suntikan)

Kedua, coronavirus merupakan virus yang dapat bermutasi sebagaimana virus influenza. Mutasi mengakibatkan perubahan karakteristik. Bayangkan tentara komando yang sudah dilatih untuk perang hutan harus diterjunkan ke medan padang pasir atau medan bersalju tanpa latihan maupun briefing. Latihannya mungkin tidak akan efektif. Apalagi jika membawa perbekalan yang salah.

 
marinir salah kostum

Lebih lanjut lagi, ada beberapa 'golongan' yang tidak boleh mendapat vaksin. Pertama, ya tentunya mereka yang sedang menderita penyakit tersebut, sudah jelaslah, nenek-nenek juga tahu. Lalu, golongan manula atau anak-anak yang masih di bawah 15 tahun. Juga mereka yang menderita komplikasi atau penyakit tertentu lainnya juga tidak dianjurkan untuk divaksin. 

Antibodi Monoklonal

Antibodi monoklonal adalah suatu zat antibodi yang didesain dan dikembangkan di laboratorium, untuk kemudian disuntikkan ke tubuh manusia. Antibodi ini didesain sedemikian rupa untuk mencari dan menghancurkan target yang sangat spesifik yang disebut dengan antigen. Antigen adalah potongan / komponen protein yang terdapat dalam sel kuman ataupun sel kanker. Ketika disuntikkan ke dalam tubuh manusia, antibodi buatan ini akan mencari dan menghancurkan target sesuai 'perintahnya'. Terkadang, ia bisa juga memprovokasi sistem kekebalan tubuh manusia untuk membantunya, dalam hal ini disebut immunotherapy

Pada prinsipnya, ada dua jenis antibodi monoklonal : antibodi monoklonal botak (naked monoclonal antibodies) dan antibodi monoklonal terkonjugasi (conjugated monoclonal antibodies). Antibodi monoklonal terkonjugasi biasanya terkoneksi dengan suatu jenis obat berbasis kimia ataupun radioaktif. Sedangkan antibodi monoklonal botak (ini adalah terjemahan versi saya sendiri, karena takut disensor UU pornografi) tidak terhubung dengan suatu obat. Kelebihan dari metode ini adalah tentu saja, sangat efektif, selektif (tidak merusak sel-sel lain selain sel target), dan kerjanya cepat.


Kekurangannya, jika zat antibodi disuntikkan dan bekerja dengan sangat efektif, hal ini dapat memicu demam yang sangat tinggi dan cepat, dan dalam kasus tertentu hal ini bisa membahayakan. Juga, karena antibodi monoklonal ini merupakan zat asing, ada kemungkinan bahwa antibodi monoklonal ini justru dianggap sebagai zat asing dan malah ditarget oleh antibodi alami tubuh, memicu reaksi seperti alergi yang parah. Untuk mengidentifikasi antigen juga berarti kuman penyakit harus dipertahankan dalam kondisi hidup di dalam laboratorium ; mempertahankan virus dalam kondisi hidup untuk mengidentifikasi antigennya jauh lebih sulit daripada bakteri atau bahkan sel kanker. Jangan lupa juga mengenai mutasi virus tadi. Dan terakhir, tentu saja biaya investasinya. Sebagai contoh, Regeneron Pharmaceuticals baru saja menerima hibah sebesar lebih dari US$ 450 juta (lebih dari Rp 6,5 triliun) untuk tambahan biaya penelitiannya, dan ini masih belum cukup.

Antibiotika

Antibiotika sepertinya tidak akan mempan terhadap virus, karena antibiotika bekerja dengan cara mengintervensi atau mengacaukan metabolisme sel dari bakteri. Virus bukanlah sel yang sempurna ; ia tidak memiliki ribosom, mitokondria, atau bahkan nukleus, sehingga tidak ada target untuk diserang oleh antibiotika. 

Probiotik

Kita tahu yoghurt mengandung probiotik. Tetapi probiotik hanya mengkolonisasi saluran pencernaan, dan itu pun hanya di usus besar, sedangkan coronavirus normalnya bermukim di saluran respirasi, karena 'jangkar' pada coronavirus hanya dapat menempel pada epitel / membran mukosal alias selaput lendir. Walaupun coronavirus bisa saja menginfeksi kerongkongan (esofagus), tetapi ketika sampai di lambung maka riwayat mereka akan tamat. Tetapi, kasusnya akan berbeda jika coronavirus menginfeksi tenggorokan (atau lebih tepatnya, trakhea), di mana infeksi dimungkinkan untuk berlanjut sampai ke paru-paru (alveoli), yang berada di luar jangkauan probiotik tadi. Tidak banyak yang dapat diperbuat oleh probiotik ini. Hal ini sama saja dengan menyuruh anggota pemadam kebakaran untuk bersiaga di Korea Selatan, padahal terjadi kebakaran yang berlokasi di Korea Utara. Tak peduli seberapa hebatnya kebakaran di Korut, grup pemadam Korsel tidak bisa pergi ke sana walaupun jaraknya tidak jauh. Mengapa? Karena ada DMZ (batas negara). btw, hal ini pernah terjadi tahun 2017. Karena penjelasan medisnya rumit, lebih baik pakai analogi saja untuk menerangkannya.

Menggunakan CADD

CADD singkatan dari Computer Aided Drugs Design atau 'merancang obat dengan bantuan komputer'. Di jaman AI (artificial intelligence) saat ini, [hampir] semua hal dapat dilakukan secara otomatis. Hal ini termasuk ke dalam pembuatan obat, atau lebih tepatnya rekayasa obat. 

 


Dengan meng-input semua data, maka komputer akan memberikan 'saran' mengenai obat yang [mungkin] efektif dalam membasmi COVID-19. Keunggulannya adalah, struktur obat dapat ditentukan / ditemukan dengan mudah dan cepat. Juga, prosesnya hemat biaya, cukup memakai program komputer saja plus biaya untuk penyejuk udara, karena hal ini akan memerlukan komputer khusus yang menghasilkan panas dalam jumlah besar. Kelemahannya, tentu saja komputer dapat bekerja jika ada input yang tepat, dalam hal ini genom COVID-19 harus dipetakan terlebih dahulu. Juga, desain obat yang 'dihasilkan' oleh komputer belum tentu dapat dibuat di laboratorium.

 
beberapa hal yang ada pada gambar,
belum tentu dapat dibuat di dunia nyata


Teknologi Nano

Penggunaan teknologi nano untuk melawan COVID-19 sepertinya cukup masuk akal. Bagaimanapun, virus merupakan suatu partikel nano yang ada secara alami. Nanorobot yang ada saat ini memiliki ukuran terkecil 0,1 mikron atau 100 nm, kurang lebih sama dengan ukuran coronavirus. Materi genetik dari coronavirus cukup rapuh, maka jika ada molekul nano yang mampu bereaksi dan menjebol perisai pelindungnya, maka mengatasi COVID-19 bukanlah hal yang sulit, secara teori. 


Obat Tradisional

Keberadaan obat tradisional telah ada hampir mengikuti sejarah peradaban umat manusia itu sendiri. Ketika saya SD dahulu, ada mata pelajaran PKK, di mana diajarkan beberapa jenis tanaman seperti 'pagar hidup', 'warung hidup', dan 'apotik hidup'. Pelajaran PKK di jaman modern ini tentunya sudah tidak ada lagi, digantikan dengan robotika, komputer, dan sebagainya. Namun, pengetahuan akan obat tradisional dan metode alternatif lainnya tak bisa dipungkiri dapat membantu meringankan bahkan mengobati berbagai macam penyakit. Jika pengobatan alternatif tidak rasional, ahli patah tulang seperti Haji Na'im di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, pastilah tidak akan terus 'kebanjiran pasien' yang selalu datang. Sayangnya, seiring waktu, pengobatan alternatif sering dipandang remeh hanya karena dinilai 'tidak rasional'. Padahal, ketika COVID-19 mewabah di China, 85% dari penderita mengaku merasa sangat terbantu dengan obat tradisional, walaupun golongan skeptis tentunya akan melontarkan argumennya sendiri.

Kekurangannya adalah, orang yang benar-benar memahami obat tradisional ini sudah bisa tergolong langka, karena produknya sendiri sudah dianggap remeh (tidak menghasilkan uang). Obat tradisional juga memiliki komposisi yang bervariasi dan tidak konsisten, sehingga komponen mana yang benar-benar bermanfaat untuk suatu penyakit menjadi sulit untuk diidentifikasi. Seringkali, bahan aktif yang bermanfaat merupakan kombinasi dua atau tiga bahan aktif, yang jika diisolasi dan diberikan kepada penderita sebagai zat murni saja justru akan menjadi tidak / kurang berkhasiat. Kesulitan yang sangat banyak mulai dari uji keaktifan, isolasi dan pemurnian identifikasi bahan aktif, karakterisasi, sintesa laboratorium, sampai produksi massal komponen bahan aktif tersebut memakan waktu, biaya, dan energi yang sangat mahal. Belum lagi tahap pengujian yang melelahkan dan memakan biaya, dari uji in vitro / ex vivo, uji pre-klinis, uji klinis tahap I-II-III, uji interaksi obat, dll. Setidaknya dibutuhkan biaya sekitar US$ 120.000.000 dan waktu minimal 10 tahun sampai obat tersebut memiliki ijin untuk diedarkan. 

 

Dan jumlah uang tersebut masih belum termasuk biaya pembangunan pabrik, mulai dari pembelian tanah, konstruksi, bahan baku, biaya iklan, pengembangan bisnis, saluran distribusi, pembelian armada, dll. Ya, kalau hanya untuk membuktikan bahwa bawang merah memiliki efek pengencer darah saja, tidak perlu uang sebanyak itu dihamburkan untuk membuat obat pengencer darah berbasis bawang merah. Cukup minum obat pabrikan yang sudah ada saja, atau ya makan saja bawangnya langsung. Kelebihannya adalah, sebagian tanaman herbal relatif mudah didapat, harganya murah atau minimal terjangkau, mudah diolah secara tradisional, lumayan efektif jika diberikan dengan takaran yang tepat, dan karena terdiri dari kombinasi beragam bahan aktif, maka walaupun kuman mengalami mutasi sekalipun maka keefektifan obat tradisional tetap dapat diandalkan.



Penutup

Semua metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tetapi, sebagaimana kemerdekaan diperoleh oleh para pejuang di jaman penjajahan dengan cara bersatu, akan lebih baik jika metode-metode yang [akan dan] telah ada ini saling mendukung (diintegrasikan) satu sama lain. Hal ini akab dibahas di artikel selanjutnya. Namun bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Salam sehat.

Referensi 

https://www.theguardian.com/world/2020/aug/24/what-is-blood-plasma-therapy-covid-coronavirus-trump

https://www.forbes.com/sites/robertpearl/2020/08/10/coronavirus-vaccine-gone-wrong/#71d503947ae4

https://www.statnews.com/2020/07/31/covid-19-vaccine-amazingly-close-why-am-i-so-worried/

https://www.thenational.ae/world/europe/coronavirus-world-must-be-prepared-for-ineffective-vaccine-or-stronger-virus-1.1061836 

https://www.devex.com/news/devexplains-monoclonal-antibody-treatment-for-covid-19-97708

https://www.cancer.org/treatment/treatments-and-side-effects/treatment-types/immunotherapy/monoclonal-antibodies.html

https://www.drugtargetreview.com/article/61581/can-a-computer-help-us-find-a-treatment-for-covid-19/

https://www.nature.com/articles/s41565-020-0757-7

https://news.northeastern.edu/2020/03/04/heres-how-nanoparticles-could-help-us-get-closer-to-a-treatment-for-covid-19/

https://www.scmp.com/news/china/society/article/3052763/coronavirus-80-cent-patients-china-benefiting-traditional

 

Featured Post

Jakarta PSBBBBBBBBBBBBBB lagi....

Akhirnya, setelah ramai-ramai didatangi massa pendemo dari luar Jakarta, yang kebanyakan berstatus pekerjaan tidak jelas, termasuk pelajar a...

Popular Posts